MAMUJU — Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Kominfosip) Kabupaten Mamuju membekali Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) se-Kabupaten Mamuju dengan kemampuan menyaring isu lokal, mengolahnya menjadi informasi publik, dan mendistribusikannya secara strategis melalui media sosial.
Pembekalan itu dilakukan melalui Pelatihan Manajemen Media Sosial & Strategi Distribusi Konten dengan menghadirkan Luhur Hertanto, Dosen UHAMKA Jakarta dan mantan Executive Producer Metro TV, sebagai narasumber.
Dalam pelatihan, peserta diperkenalkan pada prinsip 3K, yaitu Kedekatan (Proximity), Kedampakan (Impact), dan Kemungkinan Solusi. Ketiga prinsip tersebut menjadi dasar untuk menentukan apakah suatu persoalan di lingkungan masyarakat layak dikembangkan menjadi konten informasi publik.
Isu mikro, seperti antrean di Puskesmas, kelangkaan bahan pokok, kerusakan jalan atau jembatan, hingga penumpukan sampah di pasar, dinilai memiliki nilai kedekatan yang kuat dengan kehidupan warga. Namun, isu tersebut perlu dikaji berdasarkan dampaknya terhadap keselamatan, pelayanan publik, dan aktivitas ekonomi masyarakat, serta peluang penyelesaiannya oleh pihak terkait.
Luhur menekankan, pengelolaan isu tidak berhenti pada proses produksi konten. Materi yang telah disusun harus di distribusikan secara terencana agar menjangkau audiens yang tepat. Satu video, misalnya, dapat diadaptasi untuk Instagram, TikTok, YouTube Shorts, dan WhatsApp sesuai karakter masing-masing platform.
Jangkauan konten juga dapat diperkuat melalui tagging dan mention akun resmi instansi terkait. Penggunaan hashtag perlu tetap relevan dan tidak berlebihan. Dalam menyampaikan kritik maupun aspirasi, KIM diingatkan untuk menggunakan fakta, bahasa yang santun, serta menghindari ujaran kebencian.
Selain itu, Luhur mendorong KIM mengembangkan isu secara berseri. Sebuah persoalan dapat diawali dengan gambaran kondisi di lapangan, dilanjutkan kesaksian warga terdampak, kemudian diperkuat dengan tanggapan pihak terkait. Pola ini memungkinkan isu dikawal secara berkelanjutan tanpa memadatkan seluruh informasi dalam satu konten.
Melalui pelatihan tersebut, KIM diharapkan tidak sekadar aktif memproduksi konten, tetapi juga mampu menjadi agen informasi publik yang adaptif, kritis, dan solutif. Konsistensi publikasi, kedalaman materi, dan ketepatan memilih saluran distribusi menjadi kunci untuk membangun komunikasi publik yang edukatif serta mendorong penyelesaian persoalan di tingkat masyarakat.
(Diskominfosip/AS)
